×

Warning

Error loading module Unknown storage engine ''

Dengan dasar hukum perusahaan CV La Tofi (Akta Notaris Endang Werdiningsih SH No. 2 Tahun 2001) The La Tofi School of CSR didirikan pada tanggal 17 Juni 2010 melalui suatu pelatihan yang membangunkan pengertian yang baik mengenai Corporate Social Responsibility (CSR) kepada wartawan. La Tofi bersama Prof. Dr. Ibnu Hamad, Edi Suharto Ph.D., Ir. Jalal M.Si., Toto Sugito, Yan Brault (Alm.), dan Ratih Sang memberikan pengetahuan CSR yang beragam kepada wartawan nasional dan Jawa Barat yang diinapkan dua hari di Hotel Marbella Dago – Bandung.

Muncul banyak definisi, penafsiran, hingga harapan yang melambung mengenai CSR. Dari pelatihan dan diskusi yang hangat di dalamnya, La Tofi berkesimpulan, harus ada mazhab baru CSR berciri Indonesia. Itu dimaksudkan agar praktek CSR memiliki konsep berdasarkan nilai-nilai yang hidup di Indonesia. La Tofi juga memandang CSR sebagai  kreativitas perusahaan untuk memajukan bisnisnya. Sehingga menurutnya, The La Tofi School of CSR adalah taman kreatifitas bagi pimpinan dan manajer perusahaan, pengelola pemerintah dan lembaga sipil untuk berkolaborasi dalam pelestarian lingkungan dan kesejahteraan umat manusia yang hidup di dalamnya.

La Tofi & Hamdan Zoelva

LA TOFI, adalah pendiri dan Chairman The La Tofi School of CSR. Kariernya berawal sebagai wartawan di berbagai majalah yang kemudian menjadi pengusaha majalah berformat buku, seperti BISNIS & CSR dan BIOGRAFI POLITIK. Tetapi karena teringat latar belakang pendidikannya sebagai pekerja sosial profesional dari Bandung School of Social Work, ia “mengintip” kecenderungan perusahaan yang mengadopsi CSR, ia kemudian jatuh cinta untuk mengembangkan bisnis yang berkaitan dengan praktik Corporate Social Responsibility. Dari ketertarikan pada bisnis barunya itu, ia mendapatkan pengertian baru, CSR tidak semata bisnis baginya, tetapi semangat hidupnya. Ia tidak akan menulis buku KILL CSR (Lakukan 7 Terobosan) apabila praktik CSR di Indonesia tidak compang-camping karena salah pengertian. Ia pun menggagas pemberian penghargaan tahunan Indonesia Green Awards dan Nusantara CSR Awards yang dimulai 2010.

HAMDAN ZOELVA, adalah Senior Advisor The La Tofi School of CSR. Ketua Mahkamah Konstitusi periode 2013 – 2015 ini merupakan orang yang paling dicari oleh La Tofi untuk “keputusan terbaiknya”. Kenapa? Pengadilan – tak terkecuali Mahkamah Konstitusi – sering menjadi tempat penyelesaian masalah-masalah CSR. Hamdan Zoelva yang berkawan sejak kecil dengan La Tofi di Kota Bima ini belajar banyak mengenai CSR dari kasus yang muncul. Oleh Karena itu, La Tofi yang sudah terlibat jauh dalam upaya-upaya strategis melestarikan lingkungan dan memajukan kesejahteraan masyarakat, merayu Hamdan agar mau jadi penasihat bagi The La Tofi School of CSR yang mengukuhkan dirinya sebagai konsultan andal. Hamdan pun memberi pendapat dari suatu contoh tentang keputusan hakim yang menghentikan kegiatan perusahaan di suatu tempat . Mestinya hakim menghukum perusahaan untuk melaksanakan kewajiban yang dilalaikannya, kata Hamdan.

Antara Pemberi Penghargaan dan Konsultan CSR

THE LA TOFI SCHOOL OF CSR menjadi heboh saat debat kandidat pilpres 2014, dimana Joko Widodo salah ucap dengan mengatakan, ketika menjadi Walikota Solo ia memperoleh penghargaan Green City dari Kementerian Lingkungan Hidup. Setelah ditelusur oleh pihak lawan, tidaklah demikian, tetapi pemberi penghargaan sesungguhnya pihak The La Tofi School of CSR yang dipimpin oleh La Tofi. Penyerahan penghargaannya oleh Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan saat itu. Menurut La Tofi, Joko Widodo yang kini presiden, tidaklah salah-salah amat, karena ia mengingat ketua tim penilainya Prof. Tjahja Djajadiningrat adalah juga Ketua Dewan Kehormatan PROPER Kementerian Lingkungan Hidup.

Selain sekolah dan pemberi penghargaan, The La Tofi School of CSR sejak awal dirancang sebagai konsultan di bidang Corporate Social Responsibility yang mengkhususkan diri sebagai event organizer pembawa cerita perubahan.  “Kami menolak pekerjaan yang tidak sejalan dengan misi kami. CSR harus membuat cerita perubahan di komunitasnya,” kata La Tofi.